Tampilkan postingan dengan label Hot News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot News. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2013

Jika Umat Tahu Sunnah, Mereka Akan Bersikap Tegas Terhadap Syi'ah


Menangkal tersebarnya kesasatan Syi’ah di Indonesia, Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS) punya strategi sendiri, yaitu menguatkan identitas umat sebagai pecinta sunnah. Ini sebagai langkah nyata untuk menguatkan imunitas umat dari virus-virus perusak akidah. Demikian sebagian kesimpulan wawancara voa-islam.com dengan Ustadz DR. Mu’inuddinillahi Basri, selaku ketua DSKS beberapa pekan lalu.

Metode yang akan ditempuh DSKS untuk memupuk kecintaan kepada Sunnah adalah dengan serius melakukan gerakan memahamankan umat terhadap Sunnah. Bahwa sunnah itu manhajnya para sahabat.

“Ketika ummat tahu sunnah maka mereka akan tegas terhadap Syiah.” Tutur dosen pasca sarjana UMS dengan penuh harap.

Kemudian dimunculkan kelebihan-kelebihan para sahabat Nabi ridhwanullah ‘alaihim dan pendapat-pendapat mereka. Sehingga umat memiliki kesimpulan, pandangan-pandangan akidah yang berseberangan dengan para sahabat adalah batil.

“Umat memahami sikap Syi’ah berlebih kepada Ali adalah sikap yang batil,” tuturnya.

DSKS bertekad melakukan gerakan cinta sunnah ini secara besar-besaran. “Gerakan pelajar cinta sunnah, gerakan saudagar cinta sunnah, polisi cinta sunnah, tentara cinta sunnah,” harapnya dengan sungguh-sungguh.
DSKS bersama elemen umat Islam Solo Raya telah bersepakat mendeklarasikan gerakan Komunitas Pecinta Sunnah (KPS) di stadion Manahan Surakarta pada Rabu, (25/12/2013) mendatang.

Acara yang bertepatan 22 Shaffar 1435 Hijriyah tersebut, memiliki tujuan besar untuk memberikan akselerasi dan kontribusi umat Islam Solo bagi kebangkitan Ummat Islam sedunia.

Selain itu, masih menurut Ketua DSKS, gerakan ini juga dengan sendirinya akan memilah kaum muslimin yang Ahlus Sunnah dengan Syi’ah.
“Ketika immunitas kaum muslimin terbangun maka dengan mudah mereka akan menolak virus jahat yang disebarkan kaum Syiah kepada Ummat Islam,” demikian tandas ustadz Mu’in.

Ustad Mu’in berharap, dengan gerakan cinta sunnah ini maka immunitas Ummat didapatkan.

sumber  [voa-islam.com]
Read more

Senin, 22 Juli 2013

Mantan Jurnalis TV Luncurkan Buku ‘Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam’

Berada dalam posisi nyaman, punya jabatan tinggi, bergaji hampir puluhan juta, biasanya membuat seseorang tidak lagi memikirkan idealisme. Kebanyakan orang justru akan mempertahankan posisinya seperti itu, apalagi di tengah arus materialisme yang terus melanda umat manusia.
Namun, seperti dilaporkan islampos.com, berbeda dengan sosok pria satu ini, yang rela melepaskan itu semua demi sebuah idealisme yang berasal dari pemahamanannya tentang Islam. Sosok tersebut adalah Mohamad Fadhilah Zein, sosok manusia yang telah malang melintang dalam dunia jurnalisme dan terakhir posisinya pernah sebagai news producer untuk salah satu televisi nasional ternama yang ada di Indonesia.
Bagi Fadhil – panggilan akrab beliau – pemberitaan media massa tentang umat Islam sangat tendensius dan tidak berimbang. Media massa di Indonesia, sengaja atau tidak tidak, telah bertindak zalim terhadap umat terbesar di Republik ini. Dan inilah salah satu alasan utama dirinya lebih memilih untuk mundur dari posisi nyamannya sebagai salah satu ‘petinggi’ di media. Mungkin sebagian orang akan menganggap dirinya bodoh keluar dari pekerjaannya, namun bagi Fadhil keberpihakan terhadap umat dan idealisme lebih utama daripada jabatan dan harta yang berlimpah.
Pasca mundur sebagai new producer salah satu televisi swasta, Fadhil yang telah lama merasa terjadi pertentangan batin di dalam dirinya sewaktu melihat kezaliman media terhadap pemberitaan umat Islam termasuk televisi tempat dia dulu bekerja, mulai mengumpulkan fakta-fakta dan bukti kezaliman yang dilakukan media terhadap umat Islam. Dan akhirnya untuk melampiaskan gejolak di dalam hatinya serta sebagai upaya mengedukasi masyarakat tentang tidak adilnya media terhadap umat Islam, Fadhil memilih membuat sebuah buku berjudul “Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam.”
Dalam bukunya setebal hampir 200 halaman tersebut, Fadhil memaparkan secara gamblang banyak kasus tentang bagaimana media massa mainstream (baca: sekuler) ketika memberitakan segala sesuatu yang terkait umat Islam. Hampir semua pemberitaan media massa arus utama tersebut selalu menyudutkan umat Islam. Sebagai contoh pemberitaan kasus terorisme, FPI, penyegelan gereja Yasmin dan lain sebagainya.
Tentu saja harus ada upaya dari umat Islam untuk mengcounter semua pemberitaan yang cenderung banyak salahnya itu. Menurut Fadhil harus ada revolusi media. Dan revolusi media tidak akan pernah terjadi di media arus utama yang lebih sibuk dengan popularitas, rating dan uang. Dan revolusi media itu, menurutnya ada di tangan jurnalis muslim dan media massa Islam. Karena menurutnya media dan jurnalis Muslim lah yang seharusnya menjadi pembela Islam dan umat Islam yang bekerja penuh dedikasi dan keikhlasan meski dihadapkan pada banyak keterbatasan. (kiblat.net)
Read more

Jumat, 12 Juli 2013

NII dan Transformasi dalam Tandzim Jihadi


Membaca “Inside Jihad” karya Omar Nasiri, intel Prancis yang menusup ke sel Al-Qaeda di kamp Afghan, saya banyak hal yang menarik dari buku ini. Antara lain adalah cerita bagaimana ia menyusup dan mengikuti pelatihan militer. Meski agak memalukan karena yang memberi info adalah seorang mujrim, tapi deskripsi-deskripsi yang ia tulis sangat menarik.

Secara positif, saya jadi tahu lebih gamblang ihwal laboratorium besar bernama Afghan; bahwa nun jauh di sana sekelompok umat bekerja dengan sangat serius, lengkap dengan segala fasilitas persenjataan modern. Himpunan muslim dari berbagai latar belakang suku dan bahasa, tengah melebur diri menjadi satu suku; suku tuntas dan suku mujahid. Ada magma di sana.

Otak kiri saya berbicara dan otak kanan berkelana; fenomena apa ini? Adakah mereka adalah eksistensi dari janji Rasul tentang thaifah manshurah? Merekakah kelompok inti umat ini? Adakah mereka jenis “cagar alam” yang tak bisa dipunahkan, paling tidak ideologinya? Apa rahasia besar Allah dibalik fenomena ini? Adakah mereka entitas yang selalu memenangkan peperangan?

Membaca tulisan Omar Nasiri ini bak menonton urutan serial pertunjukan ‘maha dahsyat’, saya mendapat release terbaru Al-Qaeda media Ramadhan 1428 H. Aiman Adz-Dzawahiri dengan ditemani buku-buku dan sepucuk Kalasinkhov tengah berorasi. Permunculannya kali ini seolah tengah mengejek Bush bahwa ia sangat santai menghadapi tekanan Amerika. Back-drop syutingnya memberi pesan kuat yang lazim disebut dalam buku-buku siyayasah syar’iyyah bahwa agama ini harus ditopang dua hal: Kitab dan Pedang.

Aiman Adz-Dzawahiri tengah menyampaikan progress report perlawanan globalnya di seluruh dunia. Dimulai antara lain dengan tayangan sebuah tekad koalisi antara dua kekuatan besar: Thaliban dan Al-Qaeda. Thaliban berposisi sebagai anshar sementara Al-Qaeda sebagai muhajir. Al-Qaeda menegaskan tekadnya untuk sami’na wa-atha’na kepada Amirul Mukminin: Mullah Umar, sementara Thaliban yang diwakili Mullah Dadullah bertekad menjadikan Afghan sebagai parit perlindungan pagi mujahidin seluruh dunia. Sebuah kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng. Selanjutnya Aiman menyampaikan permunculan gerakan perlawanan global di berbagai penjuru dunia. Dimulai dari Irak; Somalia, Maghribi, Palestina dan lain-lain.

Ya.. bak sebuah urutan serial, kini bukan sekadar deskripsi normatif seorang Omar Nasiri di era 90-an, tapi sudah dalam bentuk aktualisasi. Release ini menegaskan fenomana ‘istikhdamul-quwwah’ yang lebih terprogram dan terorganisir. Jika selama ini saya hanya menduga mereka terpimpin secara ideologis, tapi kali ini saya harus mengakui mereka mulai terpimpin secara siyasi. Nampaknya, tren ke depan kelompok ini akan mengisi lakon utama sebagai kelompok perlawanan terhadap adikuasa di dunia ini.

Tiba-tiba ingatan saya kembali ke belakang, pada ruang dan waktu saya berada. Di bumi saya Indonesia, pernah tercatat sebuah  perlawanan anak bangsa dengan jalan pedang terhadap pemerintahnya yang dinilai sekuler. Kelompok itu menamakan diri Negara Islam Indonesia atau NII. Pasca ditangkapnya sang Imam; Kartosuwiryo, gerakan ini menjelma menjadi gerakan klandestin. Sayang, dalam perjalanan gerakannya, qiyadah yang sudah menjadi tua, kurang bisa mengikuti transformasi. Mereka sering terjebak pada kebanggaan nostalgia sejarah. Tidak ada basis pemikiran yang dibangun secara kuat dan permanen, kecuali hanya dogma global bernama jihad. Kultur  yang dibangun pun tidak nyambung dengan ruang di mana mereka berada hingga memaksakan ruang negara ke ruang gerakan. Budaya mencuri  pun merajalela atas dalih fa’i.

Kelompok muda gelisah. NII dinilai sudah tidak menjawab tuntutan zaman. Ada yang kemudian bermetamorfosa menjadi gerakan tarbiyah, dan ada pula yang memilih pergi ke Afghanistan untuk berjihad. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mewawancarai Abu Rusydan, sosok yang didakwa sebagai petinggi Jamaah Islamiyah. “Apakah Abdullah Sungkar memberangkat muridnya ke Afghan melalui jalur NII?” Ia menjawab: “Tidak, justru NII nunut ke beliau.” “Apa latar belakang AS kemudian memisahkan diri dari NII?” tanya saya: “NII dinilai sudah tidak mampu menjawab persoalan jihad aktual masa itu.”

Transformasi begitu penting, karena sebuah ideologi diajarkan bukan untuk mengisi ruang kosong. Kita bisa berkaca pada perjalanan Rasulullah. Dalam buku sirah, selalu disebutkan era pra kenabian dan pasca kenabian. Hal yang menegaskan bahwa Rasulullah itu menjawab sesuatu; Ada masalah sosial yang disolusi. Dalam konteks tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan; mari kita amati “fenomena perlawanan global” ini. Untuk selanjutnya mencoba menyinkronkan “takwin quwwah” -sebagaimana grand umumnya gerakan di Indonesia- dengan “istikhdam quwwah”. Tentu ini bukan hal gampang karena terkait bagaimana menyinkronkan idealisme dengan istitho’ah.

“Perlawanan global” ini tidak lahir serta-merta. Usamah bin Ladin telah lama merintisnya. Ia juga bukan jenis perlawanan sporadis, tapi didesain memiliki daya kenyal yang lama. Ini menarik untuk dicermati. Qiyadah harakah di Indonesia harus memiliki waktu khusus untuk mencermati hal ini di tengah kesibukan pentadbiran. “Perlawan global”  ini dibangun oleh ideologi, maka tidak cukup bagi qiyadah dari hanya sekadar mendengar dan membaca buku propaganda mereka. Langkahnya sudah harus lebih maju untuk mengunyah 36 kali dengan segenap kritik hingga beroleh gambar besar dan gambar kecilnya. Informasi gerak-geriknya juga tidak cukup diakses dari media umum yang penuh distorsi, apalagi hanya kebetulan ada yang memberi tahu, tapi harus digali melalui sumber eksklusif yang akurat, juga dengan segenap analisa kritis.

Pendek kata, qiyadah harus melakukan ‘investasi’ pada ranah pengkajian ini untuk menajamkan mata dan telinga. Jika selama ini gerakan-gerakan di Indonesia tidak eman berinvestasi gedung tinggi sebagai sarana pendidikan, tidak ada salahnya berinvestasi besar pada pengkajian dan penelitian.

NII harus membayar dengan ditinggalkan oleh kader mudanya yang potensial akibat tidak mengikuti transformasi. Meski demikian, tentu ‘pengamatan’ di sini bukan sekadar mengikuti tren. Ada yang lebih mendasar dari itu semua. Apa itu? Gerakan yang dalam proses “takwin quwwah” tidak boleh tenggelam pada i’dad tanpa batas ukuran. Karena sesungguhnya, ditarik dari sisi mana pun “istikhdam quwwah” itu wajib; kadang wajib ain dan kadang wajib kifayah.

Tidak ada opsi yang lain. Alasan yang dibenarkan bagi harakah sekarang untuk bergeser dari istikhdam ke takwin adalah; ‘adamul isthitha’ah (tidak ada kemampuan). Maka, menjadi menarik mengamati sebuah gerakan yang tengah ‘istikhdam quwwah’ untuk beroleh pembanding.KIBLAT.NET
Read more

Selasa, 09 Juli 2013

Hartamu Akan Jadi Saksi Perjuangan

Ingatkah kita akan perjuangan-perjuangan para sahabat yang tak kenal lelah dan terus istiqamah di jalan dakwah. Mereka rela melakukan apa saja untuk kelancaran dakwah mereka. Harta, tenaga, pikiran, keluarga, bahkan nyawa sekali pun rela mereka korbankan demi Islam. Lantas apa yang telah kita sumbangakan untuk Islam?

Sudah berapa banyakkah harta yang telah kita infaqan dijalan dakwah. Di sisi lain, kadang kita merasa berat jika harta kita dikeluarkan untuk kemajuan dakwah Islam. Berbeda halnya dengan kebutuhan kita untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, rasanya sangat mudah sekali kita mengeluarkan uang kita untuk hal-hal itu.

Kalau saja kita disuruh memilih, apakah kita akan memilih untuk membeli pulsa yang notabene hal itu sangat lah tidak penting jika dibandingkan dengan mengeluarkan uang kita untuk membeli buku agama yang nantinya akan menjadi bekal kita untuk berdakwah. Tentu kita akan merasa rela untuk membelanjakan harta kita untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Wahai saudaraku, ingatlah bahwa harta kita itu akan menjadi saksi bagi diri kita ketika kita nanti dihisab di yaumil hisab. Seseorang yang mempunyai harta yang banyak akan lebih sulit dihisab dibandingkan dengan orang yang mempunyai sedikit harta. Sebab harta yang kita miliki akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Darimana harta itu kita dapatkan, dengan cara seperti apa kita mendapatkannya, dan digunakan untuk apa harta yang kita miliki itu. kalaulah kita bisa mempertanggungjawabkan harta kita di hadapan Allah,maka selamtlah kita. Akan tetapi seandainya kita tidak bisa mempertanggungjawabkan harta kita, maka celaka lah kita. Naudzubillahi mindzalik.

Kalau kita merasakan kondisi yang seperti itu, mempunyai banyak harta, maka alangkah terpujinya kalau kita menginfaqan harta kita di jalan dakwah.

Harta yang kita miliki harusnya bisa menjadi saksi gerak juang kita dalam berdakwah. Jadilah seperti halnya Utsman bin Afan yang rela mengorbankan hartanya untuk biaya perang. Dengan seperti itu, tentunya harta yang kita miliki akan lebih sempurna dan lebih berkah.

Sekarang ini sangat diharapkan muncul tokoh-tokoh baru yang mempunyai sifat sedermawan Utsman bin Afan, yang rela mengorbankan hartanya di jalan Allah. Dan yakinilah bahwa dengan mengeluarkan harta kita untuk jalan dakwah tidak akan mengurangi harta kita sedikit pun, bahkan akan menambah harta kita itu.

Dan ingatlah saudaraku, bahwa kedudukan harta untuk penegakan kalimatulloh di muka bumi memiliki peran penting. Bahkan menginfakkan harta di antara bentuk jihad dan bukti kejujuran iman seseorang. Oleh karena itu dalam al-Qur’an banyak ayat yang menggandengkan pengorbanan harta dengan jiwa dalam berjihad menegakan kalimatulloh.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta, dan jiwanya di jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS.Al-Hujurot [49]: 15)

الَّذِينَ آَمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ.
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. At-Taubah [9]: 20)

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah [9]: 41)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.
“Wahai orang-orang beriman! Maukah kamu Aku tunjukan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS.ash-Shof [61]: 10-11)

Beberapa ayat di atas adalah bukti bahwa harta memiliki peran dalam pembuktian iman dengan berjihad untuk menginfakkannya.

Wallahu ‘alamu bi ash-shawab

Read more

Abdullah Azzam Menghidupkan Kembali Kewajiban Jihad di Era Modern

Nama lengkap beliau adalah Abdullah Yusuf Azzam. Lahir pada tahun 1360 H/1941 M di desa Sailatul Haritsiyah, Jenin, Tepi Barat, Palestina. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di desa kelahirannya tersebut.
Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknologi Pertanian di mana berhasil meraih gelar diploma dengan derajat imtiyaz(Istimewa). Selepas kuliah, bekerja di bidang pendidikan dan menikah dengan Ummu Muhammad pada usia 18 tahun.
Hafal Al-Qur’an, ribuan hadits, juga syair. Melanjutkan studi keislaman di Fakultas Syariah, Universitas Damaskus, Suriah, dengan cara intisab (studi jarak jauh). Berhasil meraih gelar sarjana (Lc.) pada tahun 1386 H/1966 M dengan predikat jayyid jiddan (Sangat Memuaskan).
Pada Perang Arab-Negara Israel 1387 H/1967 M, Abdullah Azzam kembali ke Palestina untuk melaksanakan kewajiban i’dad dan jihad serta berpartisipasi dalam banyak pertempuran mengusir penjajah. Di sela-sela perjuangannya, beliau masih sempat melanjutkan studi magister dan berhasil meraih gelar master (M.A.) pada tahun 1389 H/1969 M juga dengan predikat jayyid jiddan. Setelah wilayah Tepi Barat jatuh ke Israel, beliau berhijrah ke Yordania pada 1390 H/1970 M dan bekerja sebagai dosen di Fakultas Syariah, Universitas Yordania, Amman. Kemudian mendapat beasiswa tugas belajar dari kampusnya untuk studi doktoral pada bidang Usul Fikih di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Gelar doktor pun berhasil diraih pada tahun 1393 M/1973 M dengan predikat asyraful ‘ula(Dengan Pujian). Disertasi beliau berjudul Dalatul Kitabi was Sunnati ‘alal Ahkam, setebal 930 halaman.
Pada tahun 1980 M/1400 H keluar surat pemberhentian beliau sebagai dosen dari Otoritas Militer Yordania karena aktivitas keislaman beliau. Selama di Yordania beliau memang aktif berjihad di sekitar perbatasan Palestina–Yordania. Beliau kemudian hijrah ke Arab Saudi dan kemudian mengajar di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah. Di sinilah memulai interaksi secara intens dengan mahasiswa yang kelak dianggap sebagai pendukung dan penerus utamanya di Maktab Al-Khidmat, yaitu Usamah bin Ladin.
Setahun kemudian beliau pindah mengajar sebagai “dosen terbang” di Universitas Islam Internasional di Islamabad atas permintaan sendiri, agar lebih dekat dengan jihad Afganistan. Mulai terlibat kembali dengan amal jihadi sejak tahun 1402 H. Puncaknya adalah berdirinya Maktab Al-Khidmat (Kantor Pelayanan Mujahidin) pada tahun 1404 H; sebuah lembaga yang menjadi cikal-bakal Tanzhim Al-Qa’idah.
 Setelah berakhirnya masa tugas beliau di Pakistan, pihak Universitas Raja Abdul Aziz menolak untuk memperpanjang kontrak. Beliau pun mengajukan pengunduran diri dan mulai tahun 1406 H bekerja di Rabithah Al-‘Alam Islami sebagai mustasyar (konsultan) di bidang pendidikan bagi mujahidin Afganistan. Selama di Pakistan beliau berinteraksi dengan para pemimpin utama Mujahidin Afghan, seperti Abdu Rabbirrasul Sayyaf, Hikmatyar, Burhanuddin Rabbani, Muhammad Yunus Khalish, Jalaluddin Haqqani dan Ahmad Syah Mas’ud.
Dr. Abdullah Azzam pun semakin intens pergi ke medan jihad Afganistan. Beliau pun sampai pada kesimpulan bahwa jihad Afgan adalah jihad islami dan hukumnya fardhu ‘ain bagi yang mampu. Mengingat nilai strtejiknya, umat Islam seluruh dunia wajib mendukung jihad ini. Beliau pun mengonsentrasikan seluruh potensi dirinya dan memotivasi umat dengan jihad Afganistan.
Pada hari Jumat, 24 Rabiul Akhir 1410 H, Syekh Abdullah Azzam menjemput kesyahidan—insyaallah—ketika menuju ke Masjid Sab’ul Lail, Peshawar. Ketika dalam perjalanan untuk memberikan khotbah Jumat, mobilnya melaju di atas ranjau yang ditanam oleh musuh. Semoga Allah merahmati beliau dan keluarganya serta mengaruniakan pahal yang sebaik-baiknya.
Musuh-musuh Islam mungkin mengira bahwa jihad akan padam dengan meninggalnya beliau. Jasad beliau memang binasa, namun kata-kata dan motivasi beliau tetap hidup. Terbukti, akademi militer mujahidin (muaskar) yang beliau rintis berhasil meluluskan alumni-alumni yang kelak terlibat dalam berbagai kancah jihad internasional.
Karya-karya Abdullah Azzam pun tetap hadir di tengah umat. Maktab Al-Khidmat sendiri setidaknya berhasil mendokumentasi khotbah dan muhadharah (ceramah) beliau dan membukukannya hingga lebih dari 50 karya, di antaranya serial At-Tarbiyyah Al-Jihadiyyah wa Al-Bina’ (16 buku), Al-Hijrah wa Al-I’dad (3 buku), dan Hadamul Khilafati wa Bina’uha (1 buku). Lebih dari 40 karya beliau dalam versi digital hingga kini juga bisa diakses di situs internet Minbar At-Tauhid wa Al-Jihad pada URL: http://tawhed.ws/a?a=a82qriko.
Read more