Tampilkan postingan dengan label Profil Pejuang Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Pejuang Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2013

AL-KHANSA’ ; Ibunda para Syuhadaa’


“Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”

Itulah kalimat yang keluar dari lisan Al-Khansa’, ketika mendengar ke-empat anaknya gugur sebagai syuhadaa’ dalam perjuangan menegakkan Islam dalam perang Qodissiyah. Perempuan yang melahirkan para mujahid ini, dengan penuh ketabahan dan kesabaran telah mengokohkan anak-anaknya di medan jihad. Ia adalah Al Khansa’ sebutan dari seorang wanita yang bernama Tumazhir binti ‘Amru bin Syarid as-Sulami.
Ia masuk Islam tatkala mendengar dakwah Islam, ia bersama kaumnya Bani Sulaim mendatangi RasululLah dan menyatakan keislamannya. Ia ahli dalam syair. Bahkan suatu ketika Rasulullah menyuruhnya untuk melantunkan syair-syairnya. RasululLah kagum atas keindahan syairnya, beliau menyuruh Al-Khansa’ untuk melanjutkan syair’syairnya.
Ketika terjadi peperangan Qodisiyyah [Iraq], Al Khansa’ bersama keempat putra turut dalam peperangan. Ia menasehati putera-putera agar gagah dan tabah dalam perjuangan.
“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haq selain Dia, kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal [paman, saudara laki-laki ibu] kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian”.
“Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah negeri akherat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu] dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.[Ali Imran: 200]
“Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.
Apabila pertempuan mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah bekecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan”.
Nasehat sang ibu ini membangkitkan semangat juang keempat putranya untuk maju di medan perang. Dengan gagah berani, di saat fajar menyingsing dengan menghunus pedang, mereka menghadang para musuh Allah sambil bersyair:
Saudaraku, ingatlah pesan ibumu
Tatkala ia menasehatimu di waktu malam
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,
Majulah dengan geram dan wajah seram
Yang kalian hadapi nanti hanyalah
Anjing-anjing Sasan yang mengaum geram
Mereka telah yakin akan kehancurannya
Maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram
Atau kematian yang penuh keberuntungan
Begitulah, ia melesat bagai anak panah ke tengah-tengah musuh, berperang mati-matian, sampai akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Majulah anak kedua sambil bersya’ir;
Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,
Pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana
Ia perintahkan kita dengan penuh kebijaksanaan
Sebagai nasehat yang tulus bagi puteranya
Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka
Dan raihlah kemenangan yang nyata
Atau kematian yang sungguh mulia
Di jannah al-Firdaus yang kekal selamanya
Kemudian ia bertempur, menghancurkan musuh sampai titik darah penghabisan, akhirnya gugur sebagai syuhada menyusul saudaranya. Lalu anak yang ketiga mengikuti jejak kedua saudaranya, sambil bersyair ia maju ke medan pertempuran;
Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu
Perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang
Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran
Maka majulah dengan gagah ke medan perang
Hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu, bagaimana cara berjuang
Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan
Raihlah kemenangan meski maut menghadang
Iapun tertempur mati-matian, sampai akhinya menyusul kedua saudaranya, gugur sebagai syuhada.
Majulah anak keempat menyusul ketiga saudaranya. Ia maju ke medan pertempuran seraya bersyair;
Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram
Tidak juga Umar atau leluhur yang mulia
Jika aku tak menghalau pasukan Ajam [asing]
Melawan bahaya dan menyibak berisan tentara
Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan
Ataulah kematian, di jalan yang lebih mulia
Begitulah, ia bertempur habis-habis memperjuangan agama Allah. Bertempur dengan gagah berani yang akhirnya mengantarkan ia menyusul ketiga saudaranya, gugur sebagai syuhada’.
Begitu mendengar keempat anaknya gugur sebagai syuhada, Al-Khansa’ dengan tabah berucap, “Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”
Figur seorang ibu yang sukses mengantarkan anak-anaknya sebagai syuhada. Ibu yang dari rahimnya melahirkan para syuhada yang dengan gagah berani bertempur melawan musuh memperjuangkan agama Allah. [Sumber: Ibunda Para Ulama]
Read more

Jumat, 12 Juli 2013

Syaikh Usamah Bin Ladin, 'Singa Islam' yang Lembut Hatinya

Amerika dan antek-anteknya tentu menganggap orang yang satu ini adalah gembong ‘teroris’ terbesar sepanjang masa yang paling dicari. Untuk mengejar sesosok manusia bertubuh kurus ini, AS harus habiskan miliaran dolar dan menggempur habis-habisan Afghanistan dan dilakukan tidak secara ‘jantan.’

Jelas, tidak ‘jantan’ dengan dalih war on terror AS mengajak sekutunya di bawah bendera NATO seenak perutnya menggempur Daulah Islam dibawah pimpinan para mujahid Imarah Islam Afghanistan, karena melindungi seorang ‘teroris’ bernama Usamah bin Ladin.

Luar biasa. Seperti dikatakan panglima perang NATO, Jenderal AS Stanley McChrystal, aksi main keroyok tentara sekutu itu pun ternyata jauh dari menang.

Kita lihat juga, bagaimana sebagian umat Islam sendiri menilai sosok Usamah bin Ladin? Di antara mereka yang mengaku salafi (salafi maz’um), tanpa tedeng aling-aling begitu 'galak' mencaci bahwa Usamah bin Ladin berjihad fi sabilisy syaithan. Abdul Muhsin Al Abbad ketika ditanya; “Apakah Usamah bin Ladin mujahid?” ia menjawab:
كيف مجاهد؟! نعم هو مجاهد في سبيل الشيطان. أسامة بن لادن جلب شراً عظيماً على المسلمين ولا شك أن ذهابه فيه راحة لهم, يرتاح الناس بذهابه
“Bagaimana mungkin dia disebut sebagai mujahid? Na’am, dia mujahid di jalan syaithan. Usamah bin Ladin membawa petaka yang besar bagi kaum muslimin. Tidak diragukan lagi bahwa kematiannya mendatangkan ketentraman bagi kaum muslimin. Umat manusia menjadi lebih tenang dengan kepergiannya,” jawabnya.
Bahkan seorang Aidh Al Qarni, ulama yang dikenal lewat kitabnya laa tahzan yang menyentuh hati, begitu tega mendustai kesyahidan Syaikh Usamah bin Ladin hingga mencelanya dengan mengatakan ia bermanhajtakfiir wa tafjiir (suka mengkafirkan dan membom).

Namun, tentu saja di antara mereka masih ada ulama yang mampu memandang sosok Syaikh Usamah bin Ladin melalui bashirahnya, melihatnya secara obyektif dan membelanya. Syaikh Abdullah Al Jibrin -rahimahullah- saat ditanyakan apakah Syaikh Usamah termasuk orang yang membuat kerusakan sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh bin Baz? Maka beliau pun menjawab dengan lirih:
الشيخ ابن باز لم يقل ذلك وإنما قيلت عليه ، والشيخ ابن باز لن يقول هذه المقالة ولا يقولها مسلم ، فأسامة رجل جاهد في سبيل الله قديماً وكان له جهود في بلاد الأفغان ، وفقه الله ونصره ونصر به ، ولايزال قائما بالجهاد ، وكونه يكفّر فهذا من اجتهاده ، حيث انه يكفر بعض الدول التي يلاحظ عليها بعض الأشياء، فلا يقال انه بهذا يصير من المفسدين في الأرض أو نحو ذلك .
“Syaikh bin Baz tidak pernah mengatakan seperti itu tetapi itu hanya ucapan yang disandarkan kepada beliau (seolah-olah beliau mengatakannya). Syaikh bin Baz tidak mungkin mengatakan seperti itu dan tidak ada seorang muslim pun yang pantas menyatakan seperti ini..!!!

Usamah bin Ladin adalah seorang yang berjihad di jalan Allah sejak dahulu dan ia telah memberikan kesungguhannya jihadnya di Afghanistan. Semoga Allah melimpahkan taufiq kepadanya, menolongnya dan memenangkan Islam dengannya. Ia sampai hari ini masih terus berjihad."

Adapun ia mengkafirkan (para penguasa negeri-negeri muslim), itu adalah bagian dari ijtihadnya, di mana ia mengkafirkan sebagian negara yang telah ia perhatikan secara seksama dan ia mendapatkan banyak hal (yang berkaitan dengan kekufuran itu). Namun demikian tidak bisa serta merta karena (ijtihadnya) ini kemudian ia disebut sebagai orang yang melakukan kerusakan di muka bumi atau berbagai sebutan semisal itu.” Demikian fatwa Syaikh Abdullah Al Jibrin.

Di antara kaum muslimin juga ada yang malu-malu dengan menyatakan meski tak sependapat, namun Syaikh Usamah tetaplah mujahid.
Ada pun di kalangan para mujahidin internasional, pria kelahiran Jeddah, Arab Saudi, 10 Maret 1957 ini merupakan pionir mujahid dan mujaddid. Sekitar tahun 1979, usai menempuh pendidikan Tehnik Sipil di universitas King Abdul Aziz, Jeddah,  ia memulai karya jihadnya mengusir komunis Uni Sovyet dari bumi Afghanistan.  Tak hanya dengan harta, jiwanya pun ia jual kepada Allah untuk berjihad.

Ia tinggalkan kemewahan dari negara asalnya Saudi, menuju lembah-lembah gersang di lereng perbukitan Afghanistan. Harta kekayaannya yang melimpah, tak ia sia-siakan, ia gunakan membiayai kamp-kamp untuk memfasilitasi para mujahidin dari berbagai negeri untuk beri’dad sekaligus berjihad.

Biidznillah. Perjuangan mujahidin pun mendapat pertolongan Allah. Uni Sovyet pun menarik pasukannya dan penarikan terakhir pasukan tersebut terjadi pada tanggal 2 Februari 1989.

Uni Soviet lalu mengumumkan bahwa semua pasukan mereka sudah ditarik dari Afganistan pada tanggal 15 Februari 1989. Sovyet harus hengkang dari bumi Afghanistan dengan membawa kekalahan, bukan hanya kekalahan tapi negeri komunis super power di zamannya itu mengalami kerugian dahsyat bahkan kejayaannya pun rontok hingga mengalami perpecahan menjadi negara-negara kecil.

Syaikh Usamah bin Ladin sempat kembali ke negaranya, Arab Saudi, meski sempat disambut bak pahlawan, namun akhirnya ia mengalami kenyataan pahit ketika sikap kritisnya terhadap kerajaan Saudi waktu itu membuahkan pencabutan kewarganegaraannya dan ia pun menjadi DPO.

Ketika perang Teluk saat itu, Raja Saudi pun lebih suka bergabung dengan pasukan Amerika untuk melindungi negara tersebut ketimbang dijaga oleh mujahidin Arab alumnus Afghanistan pimpinan Usamah bin Ladin. 
Dalam kitab Taujihat Manhajiyah jilid III yang disusun Syaikh Usamah bin Ladin diungkapkan bagaimana raja Fahd bin Abdul Aziiz dalam khuthbahnya pada tanggal 18/1/1411 H,  saat itulah dimulainya penjajahan kaum salibis terhadap negeri Haramain secara terang-terangan, ketika itu ia mengatakan:

“…Wahai saudara-saudaraku, sungguh peristiwa yang sangat disayangkan - penyerangan Kuwait - yang dilakukan oleh Irak itu menyebabkan berkumpulnya pasukan-pasukan yang besar di perbatasan-perbatasan Kerajaan Saudi Arabia. Dan dalam menghadapi kenyataan yang pahit ini dan berangkat dari tekad kerajaan untuk menyelamatkan wilayahnya dan menjaga unsur-unsur penting kehidupan dan ekonominya…Kerajaan Arab Saudi menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan tentara-tentara Arab yang menjadi saudara dan sahabatnya, yang mana pemerintah Amerika Serikat telah ikut bergabung sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah Inggris dan negara-negara lain atas dasar hubungan persahabatan yang terjalin antara kerajaan Arab Saudi dengan negara-negara tersebut."

Syaikh Usamah tak sanggup berdiam diri tatkala melihat Al Haramain kini dijajah thaghut Amerika, demikian pula Al Aqsha berada dalam cengkraman Yahudi. ia pun kemudian mengeluarkan fatwa dan seruan jihad melawan Amerika.
Dalam kitab Aqsaamul Ilmi Alladzi Huwa Fardhu 'Ain yang disusun Syaikh Usamah bin Ladin, ia menyatakan peperangan terhadap Amerika atas berbagai penindasan dan penjajahan khususnya Al Haramain dan Al Aqsha.
“Wahai saudara-saudara kami, kaum muslimin di seluruh dunia! Sesungguhnya saudara-saudara kalian di negeri Haramain dan Palestina telah meminta bantuan kepada kalian, dan menuntut andil kalian di dalam jihad yang mereka kobarkan melawan musuh-musuh mereka dan musuh-musuh kalian dari kalangan orang-orang Israel dan Amerika, dengan berbagai cara penyerangan yang dapat mengusir mereka dari tanah-tanah suci Islam dalam keadaan kalah dan hina. Semua itu sesuai dengan kemampuannya. Allah ta'ala berfirman:
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ
Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan” (QS. Al Anfaal : 72).
Maka wahai pasukan Alloh, majulah! telah tiba saatnya untuk menyerang maka seranglah, ketahuilah bahwa bersatunya kalian dan saling tolong menolong kalian demi untuk membebaskan kesucian Islam adalah sebuah langkah yang benar untuk menyatukan umat dibawah bendera kalimat tauhid.”

Tentu saja buah dari seruan tersebut adalah dijadikannya harga kepala Syaikh Usamah bin Ladin sebesar 25 juta dolar AS. Ia menjadi buronan nomor wahid bagi thaghut AS dan antek-anteknya di seluruh dunia.

Sudan sempat menjadi tempat berlabuhnya, namun amat disayangkan ternyata pemimpin negara tersebut lebih takut terhadap Amerika dibanding Allah Ta’ala. Syaikh Usamah pun hijrah kembali ke Afghanistan dan berbaiat kepada pemimpin Imarah Islam Afghanistan, mullah Muhammad Umar.
Inilah kenyataan pahit perjuangan beliau, namun atas izin Allah, bersama kekuatan dan para mujahid yang terbatas, mereka tetap tegar di atas jihad fi sabilillah.

Yang menarik dari sosok Syaikh Usamah bin Ladin adalah karakternya yang tenang dan kelembutan hatinya hingga ia adalah orang yang mudah menangis. Ia bukan sosok yang memiliki suara keras dan berbicara berapi-api, namun tetap tegas dalam bersikap.
Kita bisa melihat sikap tersebut dari berbagai video yang tersebar di dunia maya. Para mujahidin yang pernah bertemu dengannya mengakui sikap santunnya dan kelembutan hatinya.
Syaikh Ayman Azh Zhawahiri (Amir Tanzhim Al Qaidah pengganti Syaikh Usamah) dalam video khutbahnya yang dipublish As Sahab dengan judul Ayyamu Ma’al Imam, menceritakan bagaimana Syaikh Usamah pernah bertanya padanya tentang dirinya yang lebih sering meneteskan air mata.

“As-Syaykh Usamah bin Ladin dikenal mudah mengalirkan air mata atau menangis. Hingga suatu saat beliau meminta pendapatku, beliau berkata padaku, “sebagian ikhwah berkata, ‘terkadang Anda berbicara, lalu air mata Anda menetes duluan. Kalau saja Anda (dapat) sedikit menahan (air mata).’
Lalu beliau bertanya pada saya, “apa pendapat Anda?”

Saya katakan, “wahai Syaikh, ini adalah rahmat yang Allah letakkan di hati Anda. Jangan sedih karenanya. Ini adalah karunia dari Alloh subhaanahu wa ta’aala yang Dia berikan pada Anda.” Kata Syaikh Ayman dalam video tersebut.
Subhanallah, masih dalam video tersebut Syaikh Ayman, bercerita bagaimana Syaikh Usamah menangis tatkala ada salah seorang bocah palestina dalam demonstrasi menagih janji Syaikh Usamah.

Sebenarnya, cerita yang diungkapkan Syaikh Ayman tersebut secara lengkap terdapat dalam kitab Usyaqul Huur Ila Biladil Afrah yang disusun oleh Syaikh Shalih Al Hami (Abu Qudamah). Kitab setebal 878 halaman yang diterbitkan 7 Maret 2007 (29 Shafar 1429 H)  tersebut memuat sebuah bab berjudul Qisshatun Abkat Al Qaid Asy Syaikh Usamah bin Ladin hatta Aghma ‘Alaih (Kisah tangis sang Pempimpin, Syaikh Usamah bin Ladin hingga ia pingsan), berikut inilah kisahnya.

“Aku telah melihat kisah ini tersebar di salah satu forum jihad, namun aku tak mengingat siapa yang menyebarkannya. Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh, berikut ini adalah kisah yang membuat syaikh Usamah bin Ladin menangis.
Suatu hari beliau menyiapkan program-program jihad dan mempelajari tata letaknya, tiba-tiba seorang pemuda menyodorkan kepadanya peralatan computer jinjing (laptop) dan berkata “Wahai Syaikh! Kami ingin memperlihatkan sesuatu kepada anda.”

Lalu si pemuda itu berkata, dan semuanya terdiam, melihat kepada apa yang dikatakan pemuda tadi. Beliau berkata: “Perlihatkanlah kepada kami.” Namun seperti biasanya, beliau memiliki perasaan yang asing dengan sesuatu yang baru dan mukanya mulai berubah. Kemudian pemuda tersebut mulai menyiapkan laptopnya. Ketika pemuda tadi sedang membawanya dan menyiapkannya, wajah Syaikh Usamah semakin berubah hingga laptop itu betul-betul siap dipakai.
Pemuda itu meng ‘klik’ file video dan volume suara yang dibesarkan. Ternyata file pertama dalam video itu yang muncul adalah gambar seorang anak kecil.

Dalam video itu tergambar kemarahan anak kecil, yang menjadikan setiap orang mukmin tersentuh hatinya. Anak kecil itu memakai kafayeh khas Palestina, dan mengangkat gambar Bin Ladin yang muncul dalam rekaman video, dia sedang mengacungkan tangannya ke gambar itu, anak kecil itu berkata dengan suara yang keras sembari menangis yang membuat hati teriris-iris dan berkata, “Dimanakah janjimu wahai Usamah?”

Kemudian ia mengulanginya: “Dimanakah janjimu wahai Usamah?” Hingga Usamah pun menangis dan terdengar tangisan tersedu-sedu seperti tangisan orang yang kehilangan sesuatu yang paling dicintai oleh hatinya, lalu kami menghiburnya.

Dan beliau berkata dengan suara tinggi, “Apa yang engkau inginkan dari Usamah untuk berbuat, sungguh dunia sedang berkumpul untuk menangkapnya.”
Beliau terus mengulanginya hingga jenggotnya basah terkena air matanya, lalu kami menghiburnya dan kamipun menangis bersamanya hingga majlis itu menjadi majlis ratapan, seperti seorang ibu yang meratapi kesakitan karena anak satu-satunya hilang. Hingga kami marah terhadap ikhwan yang menyodorkan film tadi, dan kami mencelanya dengan pandangan kami atas apa yang dilakukannya kepada beliau. Tidak beberapa lama sampai Beliau jatuh pingsan, kemudian beliau dibwa ke rumahnya.

Beliau terus menangis dan jatuh sakit hingga tiga hari. Setiap dia terbangun selalu teringat dengan gambar anak kecil yang menangis itu, kemudian dia menangis lagi dan terdengar isak tangisnya.

Orang yang bercerita ini berkata: “Sungguh kami tidak ingat kisah ini kecuali seperti kisahnya Umar yang sakit karena membaca satu ayat atau sikap yang mempengaruhinya.” Wallahu a’lam.

Orang yang bercerita ini adalah salah satu sahabat Usamah bin ladin yang menemaninya di goa Tora Bora. Sungguh betapa baik dan lembutnya hati Usamah, berapa banyak yang dipersembahkannya dari orang yang syahid dan singa-singa yang mengharap di sisi Allah ta’ala untuk mengambil pahalanya dan pahala mereka. Beliau benar-benar seorang komandan dan pahlawan.  Allah meninggikannya sampai ada orang-orang hasad dan membuat orang membencinya marah.

Sungguh alangkah bagusnya komandan dan bapak para syuhada. Inilah Usamah, lalu siapa kalian wahai para thaghut jika kalian kumpulkan semua manusia.” Sampai di sini kisah tersebut.

Syaikh Ayman menduga janji yang diucapkan Syaikh Usamah hingga membuatnya menangis adalah ucapannya yang sangat masyhur:
   ألي إخواننا في فلسطين نقول لهم: إن دماء أبنائكم هي دماء أبنائنا وأن دمائكم دمائنا فالدم الدم والهدم الهدم ونشهد الله العظيم أننا لن نخذلكم حتى يتم النصر أو نذوق مما ذاق منه حمزة بن عبد المطلب رضي َ الله عنه
“kami katakan kepada saudara-saudara kami di Palestina, sesungguhnya darah anak-anak kalian adalah darah anak-anak kami, dan sesungguhnya darah kalian adalah darah kami. Maka darah (dibalas dengan) darah, dan penghancuran (dibalas dengan) penghancuran. Demi Allah, kami tidak akan menelantarkan kalian hingga kemenangan terwujud atau kami merasakan apa yang dirasakan oleh Hamzah bin ‘Abdul Muttholib –semoga Allah meridhoinya-.”

Dari keluhuran sikapnya itu, maka tak heran jika Asy Syahid Syaikh Abdullah Azzam -rahimahullah- begitu memujinya lewat ucapannya yang disusun dalam kitab Fi zhilali shuratit taubah:
وفي هذه المناسبة نرجو الله عز وجل أن يحفظ أخانا أبا عبد الله أسامة بن لادن, فهذا الرجل ما تفتحت عيناي على رجل مثله في الأرض أبدا
“Dan pada kesempatan ini kita memohon kepada Allah Ta’ala agar menjaga saudara kita, Abu Abdullah Usamah Bin Ladin; lelaki inilah, kedua mataku tak pernah melihat lelaki semisal ini di seluruh dunia.”

Namun, seluhur dan sehebat apa pun Syaikh Usamah bin Ladin tetaplah manusia biasa. Allah Ta’ala ternyata lebih menyayanginya, tanzhim Qa’idatul jihad pun mengkonfirmasi syahidnya Syaikh Usamah pada Ahad, 1 Mei 2011.
Persis seperti peristiwa Syahidnya Imam Hasan Al Bana, rakyat Amerika bersorak sorai, turun ke jalan-jalan meluapkan kegembiraannya atas kematian Usamah bin Ladin.

Sesungguhnya, euphoria rakyat Amerika ini merupakan bukti yang amat jelas mengenai kebencian mereka terhadap mujahidin khususnya Syaikh Usamah bin Ladin. Maka tak salah fatwa Syaikh Usamah yang pernah beliau sampaikan saat diwawancara Taisir Ulwani, wartawan televisi Al Jazeera pada 21 Oktober 2001 M.

“Kami berjihad untuk kepentingan agamaNya. Kami berharap semoga Alloh menerima amal kami dan amal kalian.
Adapun untuk kaum muslimin, saya katakan kepada mereka: Hendaknya mereka yakin dengan pertolongan Alloh SWT. Dan hendaknya mereka menyambut perintah Alloh SWT dan perintah RosulNya SAW, untuk berjihad melawan kekafiran internasional. Karena demi Alloh, orang yang beruntung pada hari ini adalah orang yang dipilih Alloh untuk mati syahid.

Orang yang beruntung itu adalah orang yang diperkenankan untuk berdiri di bawah bendera Muhammad SAW, di bawah bendera Islam, untuk berperang melawan kaum salibis internasional. Hendaknya setiap orang maju untuk membunuh orang-orang Yahudi dan orang-orang Amerika. Karena sesungguhnya membunuh mereka itu termasuk kewajiban yang paling utama dan ibadah yang paling besar.

Dan hendaknya mereka selalu ingat dengan ajaran Nabi SAW. Beliau SAW telah bersabda kepada Ibnu ‘Abbas ra yang masih kecil:
يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ، لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلىَ أَنْ يَضُرُّوْكَ، لَمْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ إِلاَّ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
"Wahai anak kecil, jagalah Alloh niscaya Alloh akan menjagamu. Jagalah Alloh niscaya engkau dapatkan Alloh di hadapanmu. Apabila engkau meminta, memintalah kepada Alloh. Dan apabila engkau meminta tolong, mintalah tolong kepada Alloh. Dan ketahuilah, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu, mereka tidak akan dapat mencelakakan kecuali dengan sesuatau yang telah Alloh tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering."

Maka janganlah bermusyawarah dengan siapapun untuk membunuh orang Amerika. Berjalanlah dengan ijin Allah, dan ingatlah janjiNya kepadaMu, untuk menjadikanmu bersanding dengan Nabi yang paing baik (Muhammad) SAW,” jelas Syaikh usamah dalam wawancara tersebut. 

Meski kematian Syaikh Usamah adalah pukulan bagi mujahidin, namun perjuangan jihad ‘Sang Singa Islam’ abad ini tidaklah terhenti dengan kematian beliau, seperti yang tertulis dalam forum jihad As Ansar untuk mengobarkan kembali semangat jihad;
من كان يعبد اسامة فان اسامة قد مات ومن كان يجاهد لله فان الله حي لايموت
"Barang siapa menyembah Usamah sesungguhnya Usamah telah mati dan barang siapa berjihad di jalan Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati."

Sikap para mujahidin yang terus mempertahankan semangat jihad ini pun tertuang dalam rilis Al Fajr Media saat mengkonfirmasi Syahidnya Syaikh Usamah bin Ladin.
“jika cahaya Islam dan Jihad bisa padam dengan terbunuh atau meninggalnya seseorang, niscaya cahaya tersebut akan lenyap sejak hari meninggalnya pemimpin manusia Muhammad SAW sehingga banyak bangsa Arab yang murtad, atau niscaya lembarannya akan dilipat sejak hari Amirul Mukminin Umar bersimbah darah di mihrabnya, Utsman di hadapan mushhafnya dan Ali di tengah jalan -semoga Alloh meridhoi mereka semua-.
Berapa… dan berapa banyak Para Komandan yang berjalan diatas petunjuk mereka, yang telah memenuhi bumi dengan penyebutan, penaklukan dan jihad mereka baik di belahan timur maupun barat. Cahaya kebenaran tidak akan pernah padam dengan kematian mereka ataupun berbaliknya para pengikut mereka sepeninggal mereka.

Tetapi sebaliknya, dengan terbunuhnya mereka, justru mereka semakin marah terhadap para musuh dan akan terus melakukan aksi pembalasan, dan Panji Kebenaran berada di tangan mereka seraya melantunkan firman Robb mereka :
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلا
“Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang berlaku jujur dengan apa yang mereka janjikan kepada Alloh, maka diantara mereka ada yang terbunuh dan diantara mereka juga ada pula yang menunggu dan mereka tidak merubah janjinya.  (QS. Al-Ahzab : 23)."
Semoga Allah Ta'ala terus melahirkan generasi-generasi seperti Usamah bin Ladin, yang berjihad dengan harta, jiwa dan lisannya. (shoutussalam)

Read more

Kamis, 11 Juli 2013

Imam Nawawi, Hidup dan Mati untuk Ilmu


Di kalangan pengikut madzhab Syafi’i, ia dikenal salah satu guru besar madzhab Syafi’i di zamannya atau digelari dengan “ra’is al-madzhab al-Syafi’i”. Salah satu yang menjadi kelebihannya adalah ia seorang pakar hadis, mendapat julukan al-hafidz.Fikihnya selalu disandarkan kepada hadis. Ia mensyarah kitab shahih Muslim, Syarh Shahih al-Muslim. Di bidang fikih ia terkenal karena menulis kitab fikih monumental, al-Majmu’, syarah kitab al-Muhadzdzab. Di zaman Imam Nawawi, dunia Islam sedang mengalami masa kejayaan di bidang ilmu.
Nama lengkapnya adalah Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam al-Nawawi. Dilahirkan di daerah bernama Nawa. Sebuah wilayah Hauran, Damaskus pada bulan Muharram tahun 631 H. Ayahnya adalah seorang Syeikh di Hauran. Murid Imam Nawai, Ibn al-‘Attar menceritakan bahwa ayahnya adalah seorang zuhud, wara’, wali Allah.


Hidup Di Zaman Perang
Di masa Imam Nawawi hidup, dunia Islam mengalami peristiwa-peristiwa besar. Kota Baghdad diserang oleh bangsa Tar-Tar. Umat Islam juga pada zamannya mengalami pasang-surut dalam menghadapi perang Salib. Hingga akhirnya, Imam Nawawi mengalami masa dimana umat Islam berhasil mengembalikan kejayaan di bawah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi.
Meski wilayah sentral, pusat peradaban Ilmu,  sedang mengalami masa cobaan besar, di zaman Imam Nawawi, di beberapa wilayah Islam tumbuh para ulama-ulama besar yang terkenal. Seperti Ibnu Sholah, Imam al-Rofi’i,  Ibn al-‘Adim, Ibnu Khallikan dan Ibnu ‘Arabi.
Imam Nawawi belajar pertama kali di kota Nawa di bawah asuhan ayahnya. Sebelum usia baligh ia sudah menghafal al-Qur’an. Ketia ia berumur 10 tahun, saat ia sedang menghafal al-Qur’an, seorang ulama besar Damaskus, Syaikh Yasin bin Yusuf al-Maraksyi datang ke rumahnya. Sang Syaikh berkata; “Anak ini semoga menjadi seorang yang paling alim dan zuhud di zamannya serta orang-orang akan mengambil manfaat ilmu darinya”.
Di usia tersebut hari-hari Imam Nawawi dihabiskan dengan membaca dan menghafal al-Qur’an. Sehingga, diceritakan oleh seorang muridnya, bahwa Nawawi kecil dijauhi oleh teman-teman sebayanya, karena tidak mau bermain-main, hanya sibuk membaca al-Qur’an.
Menginjak usia 18 tahun, Imam Nawawi diajak pindah oleh Ayahnya ke Damaskus, disebabkan kota Nawa tidak kondusif lagi untuk memperdalam ilmu. Damaskus pada masa itu dipenuhi para ulama dan menjadi tujuan para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru Negara-negara Islam.
Di kota Damaskus dia bertemu dengan Imam Masjid al-Umawiy, Syeikh Jamaluddin Abdul Kafi bin Abdul Malik al-Dimasyqi. Imam Nawawi diberi petunjuk oleh Syeikh Abdul Kafi untuk belajar di halaqah Mufti Syam, Syeikh Tajuddin Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya al-Fazariy yang terkenal dengan Syeikh Farkah. Dialah guru pertama Imam Nawawi. Bersama Syeikh Farkah ia belajar beberapa tahun. Atas petunjuk Syeikh Farkah ia tinggal di madrasah Rawahiyyah, yaitu madrasah yang bersebelahan dengan Masjid Umawi.
Pada tahun pertama belajar di Damaskus beliau menghafalkan kitab At-Tanbih, kitab fiqih madzhab Syafi’i karya Imam Abu Ishaq Asy-Syairozi dalam waktu 4 setengah bulan, beliau menyetorkan hafalan kitab Tanbih ini pada Qodhil Qudhot Taqiyyuddin Abu Abdillah Muhammad Bin Al-Husain bin Rozin As-Syafi’i yang biasa disebut Syekh Ibnu Rozin. Lalu beliau menghabiskan tahun pertama dengan menghafalkan seperempat awal kitab Al-Muhadzdzab yang juga karya Imam Syairozi.
Sedikit Tidur Dan Penuh Disiplin
Dikisahkan, di madrasah Rawahiyah, Imam Nawawi selama dua tahun tidak bisa tidur normal, seperti biasanya manusia kebanyakan. Imam al-Dzahabi menceritakan ketekunan Imam Nawawi dalam belajar, bahwa siang dan malam dihabiskan untuk belajar. Tidak tidur kecuali memang mengantuk berat. Waktunya difokuskan untuk membaca, menulis kitab, muta’lah dan mengunjungi para Syaikh.
Pada masa awal belajar itu, Imam Nawawi sangat ketat mengatur jadwal mempelajari pelajaran di madrasah. Setiah harinya ia membaca dua belas pelajaran dihadapan para masyayikh Damaskus. Pelajaran yang ia baca misalnya, kitab al-Wasith, al-Muhadzdzab,  al-Jami’ baina al-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma’, Ishlahu al-Mantiq, al-Muntakhob, kitab tashrif, kitab Asma’ Rijal, dan kitab Tauhid.
Imam Nawawi belajar kepada sejumlah Syaikh yang pakar di bidangnya. Ia tidak hanya belajar pada satu dua guru, tapi tercatat ia belajar kepada duapuluh tiga Syaikh. Di antaranya yang utama adalah; guru bidang fikih: Syaikh al-Farkah, Syeikh Abdurrahman bin Nuh al-Maqdisi al-Dimasyqi (mufti Damaskus), di bidang ilmu hadis: Syaikh Ibrahim bin Isa al-Andalusi, Syaikh Abu Ishaq al-Wasithy, Syeikh Zainuddin Abul Baqa’ al-Nablusi, Syeikh Abdul Aziz bin Muhammad al-Anshari al-Syafi’i, Syeikh Zainuddin Abul Abbas bin Abdul Da’im al-Maqdisi,  guru di bidang Ilmu Ushul: Syaikh Abul Fath Umar bin Bandar bin Umar al-Taflisi al-Syafi’i, di bidang Ilmu Nahwu : Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri, Syeikh al-Fakhr al-Maliki dan lain-lain.
Di samping menguasai berbagai ilmu, ilmu yang paling menonjol dikuasai adalah Fikih dan Hadis. Sehingga, di kalangan ulama’ ia dikenal Muhaddis dan Faqih. Ia menguasai madzhab-madzhab para sahabat dan tabi’in beserta ikhtilaf (perbedaan) di antara mereka. Kitab fikihnya yang terkenal adalah Majmu’ syarah kitab Muhadzdzab. Imam Ibn Kastir mengatakan: “Imam Nawawi adalah seorang guru besar madzhab Syafi’i, pembesar ulama’ fikih pada zamannya”. Di bidang hadis ia mensyarah kitab Shahih Muslim dan Shahih Bukhari. Di bidang hadis ia mendapat gelar al-Hafidz. Ilmu Hadis termasuk menjadi perhatian penting Imam Nawawi. Dalam Syarh Muslim ia mengatakan bahwa termasuk ilmu yang paling penting adalah ilmu mengetahui hakikat hadis, matan hadis, mempelajari  status shahih, hasan dan dhaifnya hadis dan hal-hal lain terkait dengan ilmu hadis.
Ketinggian ilmunya diakui ulama-ulama kenamaan. Imam Al-Dzahabi berkata: “Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara, memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpa-kaian indah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau adalah pakaian yang seadanya, dan hamparan beliau hanyalah kulit yang disamak”. Diceritkan, Imam Nawawi enggan diberi gelar Muhyiddin, karean tawaddu’nya ia kepada Allah.
Beliau selalu berusaha untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sekalipun terhadap penguasa. Beliau sering berkirim surat kepada mereka yang berisi nasihat agar berlaku adil dalam mengemban kekuasaan, menghapus cukai, dan mengembalikan hak kepada ahlinya. Abu al-Abbas bin Faraj berkata: “Ia telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas).Tingkatan kedua adalah zuhud (yang sangat). Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar”.
Kitab – Kitab Imam Nawawi
Imam Nawai telah berhasil menulis karya 47 kitab. Ia sebenarnya menulis karya judul lebih dari 47, namun belum sempat terselesaikan sampai beliau wafat pada usia 46 tahun. Karya kitabnya adalah; Syarh Shahih Muslim, al-Raudhah, Minhaju al-Thalibin, al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalam Sayyidi al-Abrar, al-Tibyan fi Adabi Hamlati al-Qur’an, al-Tahrir fi Alfadzi al-Tanbih, al-‘Umdah fi Tashihi al-Tanbih, al-Idhah fi al-Manasik, al-Irsyad, al-Arba’in al-Nawawiyah, Bustan al-‘Arifin, Manaqib al-Syafi’i, Mukhtashar Asadul Ghobah, al-Fatawa al-Musammah bi al-Mas’il al-Mantsurah, Adabul Mufti wa al-Mustafti, Masail Takhmis al-Ghonaim, Mukhtashor al-Tadzhib, Daqoiq al-Raudah, Tuhfah Tullabul Fadhail, al-Tarkhish fi al-Ikhram wa al-Qiyam, Mukhtashar Adab al-Istisqa wa Ru’usil Masail, Manarul Huda, al-Maqashid, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, Syarh al-Wasith, Syarhul Bukhari, Syarh Abi Dawud, al-Imla’ ala Hadits al-A’mal binniyat, Kitabul Amaliy, al-Khulashoh fi Ahadisil Ahkam, Thabaqatul Fuqoha’, al-Tahqiq, Tuhfatul Thalib al-Nabih, Jami’ al-Sunnah, Muhimmatul Ahkam, al-Ushul wa al-Dhawabith, al-Isyarat,Tuhfatul Walid wa Raghbatul Ro’I, Khulasotul Ahkam fi Muhimmatis Sunan wa Qawaidul Islam, Ruhul Masa’il fi al-Furu’, ‘Uyunul Masa’il al-Muhimmah, Ghaitsu al-Naf’ fi Qiraati al-Sab’, al-Mubham min Hurufil Mu’jam, Mir’atuz Zaman fi Tarikhil al-‘A’yan.
Imam Nawawi wafat pada 24 Rajab tahun 676 pada usia 46. Beliau belum sempat menikah. Ketika kabar wafatnya beliau tersiar sampai ke Damaskus, seolah seantero Damaskus dan sekitarnya menangisi kepergian beliau. Kaum muslimin benar-benar merasa kehilangan beliau. Penguasa di saat itu, ’Izzuddin Muhammad bin Sha’igh bersama para jajarannya datang ke makam Imam Nawawi di Nawa untuk menshalatkannya. Dalam kitabnya Syarh al-Muhadzdzab beliau menulis pesan bahwa keutamaan ilmu itu untuk para penuntut ilmu yang mencarinya karena ridha Allah. Hukumnya tercela (madzmum) menuntut ilmu dengan tujuan duniawi, mencari kedudukan, pangkat, kehormatan, atau menginginkan popularitas.

sumber : Bumisyam
Read more

Selasa, 09 Juli 2013

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Uswah dan Gurunya Para Ulama Salaf

Dari tangan Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah lahir ulama-ulama kenamaan dari berbagai madzhab di negeri Syam, baik Syafi’iyyah maupun dari Hanbaliyyah. Ia juga terkenal produktif menulis buku. Tercatat, ada sekitar 41 buah karya kitab dari berbagai disiplin ilmu telah ia tulis selama hidupnya. Karena itu, ia dijuluki “kamus ilmu pengetahuan”.


Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Di perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damaskus. Ayahnya adalah seorang kepala Madrasah al-Jauziyyah, sebuah Madrasah  yang didirikan oleh Syaikh oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi. Nama al-Jauziyah adalah nisbat kepada madrasah yang dikelola oleh ayahnhya.

Beliau adalah ahli fikih bermadzhab Hanbali. Disamping itu juga seorang ahli tafsir, ahli hadits, penghafal al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid dari madzhab Hanbali. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Syaikh Abu Bakar al-Jauzi, ulama yang ahli fikih dan ilmu faraidh.

Guru utamanya adalah Syaikh Ibnu Taimiyah, dimana ia beberapa tahun bermulazamah dengannya. Sejak tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.  Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan.

Dia tidak hanya pakar fikih Hanbali tapi juga ahli tafsir, hadis, kalam, tasawwuf dan sastra Arab. Seorang muridnya, Ibnu Rajab, berkomentar: “Dia pakar dalam tafsir  tak tertandingi, ahli dalam bidang ushuluddin dan ilmu ini mencapai puncak di tangannya, ahli dalam fikih dan ushul fikih, ahli dalam bidang bahasa Arab dan memiliki kontribusi besar di dalamnya, ahli dalam bidang ilmu kalam, dan juga ahli dalam bidang tasawuf. Ibnu Katsir berkata, “Dia mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, dan ushul fikih”.

Burhanuddin al-Zar’i mengatakan bahwa tidak ada di bawah ufuk bumi ini yang lebih luas ilmunya daripada Ibnu al-Qayyim . Dia telah menulis dengan tangannya karya-karya yang tak dapat digambarkan dan menyusun sejumlah karangan yang banyak sekali tentang berbagai ilmu.

Ia menjadi teladan baik untuk para ulama karena cukup produktif menulis. Ada sekitar 41 karya kitab yang telah ia tulis. Di antaranya:

Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id Amtsalul Qur’an, Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan, Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil, At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris, Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain, Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’, Syarhu Asma’il Kitabil Aziz, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad, Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’, Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am, Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah, Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah, Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul, Hadi al-Arwah ila biladil Arrah, Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin, al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi, Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,Miftah daris Sa’adah, Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah, Raf’ul Yadain fish Shalah, Nikahul Muharram, Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah, Fadl-lul Ilmi, ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin, al-Kaba’ir, Hukmu Tarikis Shalah, Al-Kalimut Thayyib, Al-Fathul Muqaddas, At-Tuhfatul Makkiyyah, Syarhul Asma il Husna, Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah, Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim, Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,  Ath-Thuruqul Hikamiyyah.

Meski Syaik Ibnu Qayyim bermadzhab Hanbali, namun para muridnya ternyata ada yang dari madzhab Syafi’i. hal ini menunjukkan tradisi para ulama dahulu yang tidak egois dan fanatik dalam madzhab. Yang hebat, para muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Ibnu Katsir, seorang imam hafizh yang terkenal yang terkenal dengan kitab tafsirnya. Selain Ibnu Katsir, di antaranya adalah:
  1. Ibnu Rajab. Dia adalah Abdurrahman Zainuddin Abu al-Faraj bin Ahmad bin Abdurrahman yang biasa digelar dengan Rajab al-Hanbali. Dia memiliki beberapa karangan yang bermanfaat.
  2. Syarafuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia adalah putra Abdullah bin Muhammad. Dia sangat brilian. Dia mengambil alih pengajaran setelah ayahnya wafat di ash- Shadriyah.
  3. As-Subki. Dia adalah Ali Abdulkafi bin Ali bin Tammam as-Subki Taqiyuddin Abu al-Hasan.
  4. Adz-Dzahabi. Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Usman bin Qayimaz adz- Dzahabi at-Turkmani asy-Syafi’i. Dia adalah seorang imam, hafizh yang memiliki banyak karangan dalam hadits dan Iain-lain.
  5. Ibnu Abdulhadi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah bin Ahmad bin Abdulhadi al-Hanbali. Dia adalah seorang hafizh yang kritis.
  6. An-Nablisi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah an-Nablisi al- Hanbali. Dia mempunyai beberapa karangan, di antaranya kitab Mukhtashar Thabaqat al-Hanabilah.
  7.  Al-Ghazi. Dia adalah Muhammad bin al-Khudhari al-Ghazi asy-Syafi’i. Nasabnya sampai kepada Shahabat Zubair bin Awwam r.a.
  8. Al-Fairuzabadi. Dia adalah Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi asy-Syafi’i. Dia pengarang sebuah kamus dan karangan-karangan lain yang baik.
Ibnul Qayyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.Bumi Syam 
Read more